Lingkaran Pengaruh


Lingkaran pengaruh. Circle of influence. Tiba-tiba ingat dua kata tersebut. Kalo nggak salah, saya pernah menemukan dua kata tersebut dalam bukunya 7 Habits yang Stephen Covey (Bener kan?). Ya saya tiba-tiba ingat dua kata tersebut karena kebetulan akhir-akhir ini lagi asyik-asyiknya berinteraksi dengan Steve Jobs. Maksudnya membaca biografinya dia dalam buku yang ditulis oleh Walter Isaacson. Judulnya: Steve Jobs by Walter Isaacson. Covernya gambar muka Jobs di paruh baya, dengan tatapan tajam, mengepal tangannya sedikit memegang dagu.

Alhamdulillah. Bukunya belum tamat🙂 Masih beratus-ratus halaman yang belum terbaca. Bukunya sangat menarik, bercerita tentang Jobs, dan tentunya Apple. Karakter Jobs diungkapkan dengan detail, baik ataupun jahat. Baik dari sudut pandang rekan yang mendukungnya, yang memusuhinya, dan orang-orang yang sakit hati terhadapnya. Diceritakan satu sifatnya yang memang menjadikan dia sebagai pendiri Apple, CEO Apple, terbuang dan kemudian Apple membutuhkannya kembali adalah kemampuan dia mempengaruhi orang lain. Bagaimana ia secara total mempengaruhi orang lain, dari yang tidak setuju dan benci padanya, kemudian bisa berbalik mendukungnya habis-habisan dan terhipnotis akan pengaruhnya. Kemudian banyak diceritakan kemampuan ia menghipnotis audience ketika ia mempresentasikan produk Apple hingga presentasi itu layaknya konser tunggal Jobs dalam suatu pertunjukan seni. Lebih seru mending baca bukunya langsung deh hehe..

Balik lagi ke Lingkaran Pengaruh, benar bahwa salah satu kunci sukses seorang pemimpin adalah besarnya lingkaran pengaruh yang ia berikan pada lingkungannya. Seorang mentor saya mengatakan bahwa seorang pemimpin itu haruslah yang mampu mempengaruhi lingkungannya bukan dipengaruhi lingkungannya. Semakin besar pengaruhnya, semakin besar massa yang bisa ia raih dan mengikutinya. Dan hal ini sebenarnya bisa kita refleksikan pada diri kita juga sebagai pribadi ketika memutuskan atau melakukan sesuatu. Seringkali keputusan-keputusan kita banyak dipengaruhi oleh orang lain, dan bahkan bisa jadi merubah keputusan awal kita yang tadinya A menjadi B karena pengaruh orang lain. Untung jika pengaruh itu adalah suatu kebaikan, sehingga kita terjerumus dalam kebaikan. Dan akan menjadi buruk jika kita ternyata pengaruh yang kita terima adalah hal yang keliru dan kebetulan lingkaran pengaruh kita sangat kecil sehingga malah tersedot pada keburukan tersebut.

Seberapa kuat lingkaran pengaruh itu pada hakikatnya hanya kita sendiri yang bisa mengukurnya. Meski demikian tentunya kita harus senantiasa menjaga lingkaran pengaruh itu tetap baik. Karena itu tak salah jika kita seharusnya senantiasa mencari lingkungan yang baik, karena tentu ketika lingkaran pengaruh kita baik, toh pengaruh yang diterima oleh kita adalah pengaruh yang baik dari lingkungan yang baik. Status messenger kita, wall facebook, kicauan-kicauan di twitter, hal -hal itu juga sebenarnya bisa menjadi indikator lingkaran pengaruh. Kegalauan yang sering kita kicaukan bisa jadi adalah karena kita bergaul dengan orang-orang galau hehe. Dan jika lingkaran pengaruh kita besar, akan berbahaya jadinya ketika kita menyebarkan pengaruh kegalaun kita pada orang lain, bisa-bisa galau berjamaah🙂 Karena itu selalu lah berikan lingkaran pengaruh yang baik dimanapun kita berada. So, jangan pernah berhenti menebar dan berada dalam kebaikan. Amin🙂