Kualitas diatas Kuantitas


Belajar dari Steve Jobs – dalam buku Steve Jobs by Walter Isaacson – mustahil mengabaikan sisi mendahulukan kualitas diatas kuantitas. Membaca dirinya adalah pembelajaran mengenai seseorang dengan sifat perfeksionis yang akut. Keakutannya tercermin dari history produk-produk Apple mulai dari Apple II, MacBook, iPod, iPhone dan produk-produk turunan lainnya. Tak jarang produk-produk tersebut molor dari jadwal yang ditentukan untuk di-launching hanya karena Jobs kurang suka dengan casing produknya yang mengganggu layar. Atau karena grafis antar muka yang tidak memuaskan Jobs rela kehilangan momen untuk me-launching produknya berbulan-bulan demi menciptakan suatu antar muka yang sempurna – menurut dia. Untungnya Jobs adalah seniman panggung juga, sehingga sangat pandai menciptakan momen.

Dalam perspektif bisnis secara pragmatis, mungkin menunda momen adalah suatu kesalahan. Sebagian orang berpikir cukup dengan memberikan suatu produk dengan satu fitur saja, dan lakukan perbaikan secara perlahan dengan membuat produk lainnya. Kita bisa lihat dalam produk-produk Samsung dan Nokia yang meluncurkan banyak diversifikasi produk dengan fitur yang berbeda, tapi Apple cukup hanya meluncurkan satu produk saja. Dan hingga saat ini, kenyataan yang terjadi Apple dengan satu produk smartphone, mampu menandingi dan leading dibandingkan produk lainnya. Alih-alih menyiapkan banyak produk, mengeluarkan energi dan fokus semaksimal mungkin untuk satu produk menjadi strategi mereka. Hasilnya, premium produk.

Kualitas mencerminkan fokus yang penuh dalam suatu pekerjaan. Prioritas-prioritas yang berarah, capaian-capaian yang jelas, intuisi dalam menyelesaikan masalah yang tajam, merupakan faktor-faktor yang mendukung terciptanya suatu kualitas wahid. Kualitas juga mencerminkan tingkat passion. Kecintaan pada sesuatu akan membedakan kuantitas interaksi kita akan sesuatu tersebut. Semakin cinta, semakin intens interaksinya. Denga cinta, maka pengorbanan pun akan muncul. Pengorbanan waktu, pengorbanan uang, pengorbanan konsentrasi, semuanya tercurah pada fokus menciptakan sesuatu yang kita cintai secara paripurna.

Ahsanu ‘amala. Amalan yang terbaik. Ya karena itulah sebetulnya yang diminta oleh Allah SWT.  Suatu karya-karya terbaik dari kita semua, sebagai persembahan untuk Allah SWT.

oleh oleh perjalanan Cengkareng – Bandung