Tears of Gaza


Sore tadi, Masjid Salman ITB mengadakan acara nonton bareng “Tears of Gaza”. Sebuah tayangan mengenai kondisi Gaza terutama saat penyerangan 22 hari Israel di Desember 2008 – Januari 2009. Momen nonton bareng ini juga dilakukan dalam rangka memperingati 3 tahun invasi Israel ke Gaza. Acara ini diprakarsai oleh sahabatalaqsa bekerjasama dengan YPM Salman ITB. Film “Tears of Gaza” ini diproduksi oleh sebuah LSM Norwegia, yang para kru-krunya adalah non-muslim. Adapun acara nonton ini dipandu oleh seorang wartawan Indonesia, yang bekerja untuk Brunei Times, dan juga menjadi bagian dari penumpang kapal kemanusiaan Mavi Marmara yang juga dibajak dan diserang oleh Zionis Israel. 

Biadab. Itulah kira-kira satu kata yang pantas diberikan untuk zionis Israel. Dalam tayangan itu dipertontonkan bagaimana zionis-zionis membumihanguskan Gaza melalui serangan-serangan udara. Pesawat pesawat tempur kelas berat dengan peluru-peluru kendalinya lalu lalang tak kenal siang malam di atas langit Gaza memporakporandakan bangunan dan kerumunan manusia. Tak peduli apakah korbannya anak kecil atau lansia. Tak peduli apakah itu bangunan sekolah atau rumah sakit. Tak cuma peluru kendali explosive, mereka juga dengan terang-terangan menggunakan bahan fosfor (bahan kimia beracun) sebagai senjata udaranya.

Sedih. Mayat-mayat bergelimpangan. Ambulance hilir mudik meraung-raung. Teriakan takbir juga menggema menemani para warga Gaza yang menyelamatkan diri. Tiap pria dewasa sibuk memadamkan api, menyelamatkan anak-anak yang tertimbun di reruntuhan. Korban korban terluka silih bergantian menuju instalasi gawat darurat untuk mendapatkan pertolongan pertama seadanya. Tak terhitung berapa jumlahnya. Dan banyak anak kecil yang meregang nyawa. Sangat memilukan. Tak sedikit yang satu keluarga yang anak-anaknya syahid semuanya. Bahkan dalam beberapa kejadian diperlihatkan bahwa anak-anak ini bukan secara tidak sengaja terbunuh, tapi anak-anak ini memang menjadi target-target genosida zionis Israel. Ditunjukan beberapa anak yang ditembak oleh sniper-sniper Israel.

Tetap semangat. Alih-alih menyerah pada keadaan, warga muslim Gaza berjuang bersama pertolongan Allah melawan zionis-zionis Yahudi Israel. Dengan izin Allah, Gaza merupakan satu-satunya wilayah di teritorial Palestina (sebelum 1948) yang tidak mampu dikuasai oleh Israel. Berpenduduk 1,5 juta jiwa, wilayah ini menjadi wilayah paling sulit ditaklukan Israel. Pasukan terpilih, Brigade Al-qasaam, adalah pasukan elit yang menjadi ujung tombak pertahanan Gaza. Dengan senjata seadanya, mereka mempertahankan setiap jengkal Gaza, dan mengusir zionis Israel yang mencoba merebut Gaza. Kedekatan para personil Al-Qasaam ini dengan Al-Quran menjadi kunci kekuatan mereka. Karena itu tiap keluarga di Gaza merasa malu jika dalam anggota keluarganya, terutama anak-anaknya, tidak ada yang menjadi penghafal Al-Qur’an. Subhanallah.

Lantas bagaimana peran kita? Setidaknya ada 4 hal yang bisa kita lakukan untuk membantu saudara muslim di Gaza dan dimanapun di seluruh dunia.

  1. Senantiasa mendoakan keselamatan mereka dalam tiap-tiap doa setalah sholat kita.
  2. Menyebarkan info tentang kondisi Palestina yang sebenarnya, dan juga menggalang pengaruh opini opini di berbagai media untuk mendukung Palestina
  3. Jihad dengan harga. Infak untuk saudara-saudara muslim kita di Palestina melalui berbagai lembaga yang ada. Insya Allah bisa meringankan beban mereka yang bukan hanya saja diperangi, tapi juga diembargo aksesnya oleh Israel
  4. Mempersiapkan diri untuk berjihad. Rasulullah SAW dalam hadistnya pernah mengatakan bahwa barangsiapa seorang muslim dalam dadanya tak terbersit pun niat untuk berjihad, maka dia meninggal dalam keadaan munafiq.

“Tears of Gaza” dibuka oleh tayangan seorang anak laki-laki Gaza berusia 11 tahun yang berkata. “Aku ingin sekolah. Suatu saat nanti aku ingin menjadi dokter, agar Aku bisa mengobati korban-korban yang diserang Zionis Israel”. Malu. Ya, saya malu. Dalam leha, dalam waktu yang luang, saya masih jauh dari kata serius untuk belajar. Astaghfirullahaladzim. Suatu saat nanti, semoga dengan ilmu yang diberikan oleh Allah SWT, saya bisa membuat sebuah UAV yang bisa membantu saudara-saudara muslim di Palestina dan belahan dunia lainnya. Amin