Filosofi Teh Poci


Bismillahirrahmanirrahiim

Akhir-akhir ini bisa dikatakan favorit minuman saya adalah teh poci. Juara lah pokonamah. Nikmat. Kebetulan juga di beberapa tempat makan dan rumah teman yang saya kunjungi, menghidangkan teh poci sebagai minumannya. Disajikan dalam teko dan cangkir dari tanah liat, kesan klasiknya dapet. Ditambah bongkahan-bongkahan gula batu, dan juga disajikan panas-panas, teh poci sangat nikmat dinikmati secara perlahan.  Sruput sedikit-sedikit.Ahh.. nikmat🙂

Ternyata dalam minum teh poci, ada cara tersendiri untuk menikmatinya. Caranya adalah jangan terburu-buru dan jangan diaduk. Biasanya dalam cangkir sudah disediakan gula batu, untuk kemudian teh pocinya kita tuangkan dari teko tanah liat ke cangkir tersebut untuk kita minum. Nah seringkali kita ingin segera menikmati manisnya teh dengan mengaduk-aduk teh dengan gulabatu dalam cangkir kita agar gulanya segera larut. Nah hal itu keliru. Disarankan kita tidak mengaduknya, tapi menikmati teh dalam cangkir itu apa adanya. Awalnya mungkin pahit, tapi ketika teh semakin sedikit, kita akan mulai merasakan manisnya karena semakin dekat dengan gula. Kemudian kita tuang lagi tehnya biar tidak terlalu manis, dan sruput kembali sampai dapat lagi manisnya.Terus demikian hingga teh dan gulanya habis secara bersamaan. Bandingkan jika kita mengaduknya dari awal,ketika kita pertama kali minum pasti langsung manis dan gulanyapun sudah banyak yang larut. Akibatnya ketika kita menuangkan kembali teh yang masih ada dalam teko, kita sudah kehabisan gulanya, dan akibatnya akhirnya kita hanya menikmati pahitnya teh.

Cara minum ini boleh jadi sangat cocok kita terapkan dalam kehidupan. Tipikal orang yang instant, biasanya ingin sekali segera mendapat manisnya kehidupan, sebisa mungkin manis sedari awal tak ada kepahitan di awal. Akibatnya cenderung segala cara dihalalkan untuk segera menikmati manisnya kehidupan, tak jarang jalan pintas yang tidak halal. Karena hidup ini secara sunnatullah berputar, maka setelah manis pasti ada pahit, jadi bisa jadi manis di awal akan selalu diakhiri pahit di akhir. Easy come, easy go. Instant suksesnya, bisa jadi instant juga gagalnya. Hati-hati.

Nah lain halnya dengan tipikal orang yang sabar dan menikmati proses kehidupan – yang tanpa mengaduk teh poci sedari awal. Sebelum menikmati manisnya hidup dia akan menikmati proses pahitnya hidup, sedikit demi sedikit. ketika kita minum teh yang pahit, pasti karena pahit kita akan menikmatinya sedikit-sedikit apalagi kalau panas. Beda dengan ketika sudah manis, meski panas, kita cenderung segera menghabiskannya. Nah dengan sedikit-sedikit ini, ketika kita mencapai manisnya hidup akan terasa sekali perjuangannya. Karena sunnatullah hidup itu berputar, ketika kita merasakan manis pasti digilir dengan pahit, nah bisa jadi setelah sedikit merasakan manis, karena teh dalam teko masih ada, kita menuangkan kembali teh pahit dalam cangkir – kita berjuang kembali berlelah-lelah untuk mendapatkan manis yang lain. Kita kembali merasakan pahitnya teh . Tapi karena kita sudah belajar dari pengalaman, setelah proses-proses pahitnya teh, setelah proses-proses pahitnya kehidupan, kita yakin ada manis di depan dari gula yang belum habis. Kita yakin ada manisnya kehidupan yang dijanjikan setelah lelah berpahit-pahit. Hingga akhirnya teh dan gula habis secara bersamaan, dan akhir rasa yang kita dapatkan adalah manis, khusnul khatimah🙂 Aamiin

Ya Allah, semoga hamba selalu bisa mengambil hikmah dan kebaikan dari tiap-tiap peristiwa yang Engkau takdirkan pada hamba