Jongjon


Bismillah

2 hari yang lalu, pulang dari semeru enaknya adalah langsung dipijit. berhubung males nyari tukang pijit, ya udah supaya praktis saya dicukur aja, karena cukurannya plus sepaket ama dipijit. Ditambah tempat cukurnya juga sebelah rumah, jadi tinggal mengayunkan kaki beberapa langkah. Meski cuman sebentar dipijitnya, tapi lumayan buat sedikit meringankan pegal-pegal di pundak dan kepala.

Lagi asyik-asyiknya dicukur, sembari konsentrasi mata memandang cermin diri, tiba-tiba si mamang cukurnya nyeletuk..

“Duh teu karaosnya tos bade shaum deui”
” dua sasih deui shaum teh nya, meni nyerelek kieu waktu teh”
” sigana mah jongjon teuing urang teh di dunya, jadi karaos nyerelek waktu teh”

[subtitle]

“Duh nggak kerasa ya udah mau shaum lagi”
“dua bulan lagi kan shaum, begitu cepatnya waktu berlalu”
” kayanya karena kita terlalu tenang kita di dunia, jadi kerasanya cepet banget waktu teh”

– – –

sebuah gumaman dan retorika yang menghujam hati. sebuah monolog seorang tukang cukur yang penuh makna dan penuh arti. Ya kita terlalu jongjon terlalu merasa tenang dan nyaman dengan dunia. kita seringkali lupa atau bahkan tidak peduli, bahwa ada kampung akhirat yang jauh lebih harus kita persiapkan. Ya dunia memang sarananya, tapi akhirat lah harusnya tujuannya.

Sebuah hadist qudsi :
Aku (Allah) heran thdp orang yg yakin akan datangnya kematian, tetapi ia masih membanggakan diri?
Aku (Allah) heran thdp orang yg yakin dgn hari perhitungan (hisab), mengapa ia msh sibuk menimbun harta benda?
Aku (Allah) heran thdp orang yg yakin akan masuk pintu kubur, mengapa mereka masih tertawa terbahak-bahak?
Aku (Allah) heran thdp orang yg yakin akan hari akhirat, mengapa mereka msh bersenang senang dan lalai dlm beramal?
Aku (Allah) heran thdp orang yg yakin akan lenyapnya dunia ini, mengapa dia masih menambatkan hati kepadanya?

Semoga bisa memberikan pencerahan. Allahu’alam.

 

24 tahun ya Allah abdi di dunya
meni seueur dosa, mugi dihapunten