Seleksi


Bismillah

Seleksi, saringan, pemilihan, dan kata-kata sejenisnya adalah kata-kata yang familiar dan kita pun pasti tahu artinya. Bagi adik-adik SMA, kata seleksi mungkin masih cukup memberikan kesan yang cukup menegangkan, karena mereka baru saja menyelesaikan ujian Seleksi Nasional Masuk Perguran Tinggi Negeri atau disingkat SNMPTN. Deg-degan menunggu hasilnya, apakah masuk dan lulus ke PTN yang diinginkan atau harus mencoba lagi tahun depan. Jika ikhtiar sudah dimaksimalkan, langkah berikutnya adalah berdo’a dan menyerahkan hasilnya pada Allah SWT.

Seleksi terjadi hampir pada setiap aspek kehidupan. Orang akan melamar kerja, pasti akan diseleksi terlebih dahulu. Mulai dari seleksi administrasi, seleksi kesehatan, seleksi oleh jajaran direksi, dan seleksi lainnya. Orang akan mengikuti selsksi model iklan, pasti juga akan diseleksi dahulu. Mulai dari penampilan, foto seluruh badan, tinggi badan, sikap, dan lain-lain. Dan tiap-tiap jenjang kehidupan baru yang akan kita masuki pun biasanya tak lepas dari adanya seleksi-seleksi.

Untuk mengikuti seleksi, biasanya ada persyaratan-persyaratan mendasar yang memang harus dipenuhi sebelum memasuki tahap seleksi berikutnya. Katakanlah melamar pekerjaan. Biasanya seleksinya dimulai dari seleksi administrasi, seperti pengalaman kerja minimal 1 tahun, IPK minimal 3, berasal dari jurusan teknik, menguasai Microsoft Office, berkebangsaan Indonesia, dll. Ketika syarat administrasi itu tidak terpenuhi, misalkan IPK nya 2,7, meskipun dengan kemampuan Microsotf Office yang canggih, maka biasanya mustahil untuk masuk ke tahapan seleksi berikutnya, misalkan seleksi kesehatan atau wawancara dengan direksi karena secara syarat minimal tidak memenuhi. Sama halnya mungkin ketika akan melakukan aplikasi asuransi. Syarat minimalnya adalah memiliki penghasilan, katakanlah 3 juta rupiah, memiliki rumah sendiri, sudah berkeluarga, dll. Kemudian meskipun kita berpenghasilan 10 juta rupiah tapi belum memiliki rumah sendiri, maka secara administrasi atau syarat awal kita tidak bisa melakukan aplikasi asuransi tersebut.

Ilustrasi diatas juga sama halnya yang terjadi pada kehidupan kita di alam akhirat, tempat tinggal kita sebenarnya. Dunia adalah arena seleksinya. Seleksi untuk menentukan apakah nanti di akhirat, kita ditempatkan di surga-Nya atau di neraka-Nya. Untuk yang tak beriman pada Allah SWT, sudah jelas tak perlu diseleksi lagi, tempatnya sudah jelas. Ini seleksi awal. Nah bagi yang mengaku beriman dan muslim, berhak menuju seleksi berikutnya. Dan sebuah ibadah ritual akan menentukan apakah kita berhak untuk menuju seleksi berikutnya. Ibadah ritual itu adalah sholat.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya ibadah yang pertama kali dihisab di hari kiamat kelak adalah sholat, jika sholatnya baik, maka baiklah seluruh amal perbuatannya, dan jika sholatnya buruk (cacat), maka akan rusaklah seluruh amal perbuatannya.” (HR. Thabrani)

Hadist diatas cukup jelas menyatakan bahwa sholat menjadi amalan pertama yang akan dihisab. Dalam suatu hadist yang lain juga dinyatakan bahwa yang menjadi pembeda antara seorang muslim dan non-muslim secara jelas adalah shalat. Barangsiapa meninggalkan shalat secara sengaja, bahkan langsung dikategorikan sebagai kafir. Tapi ternyata tidak serta merta yang sudah sholat pun akan selamat, Dalam surat Al-Ma’un ayat ke 4 dan ke 5 dikatakan : “Celakalah orang-orang yang sholat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya” . Waduh, sudah sholat saja masih disebut celaka ketika kita melalaikannya. Karena itu sudah seharusnya kita memperhatikan bagaimana keadaan sholat kita. Sudah baik kah? Sudah betul kah?

Para ahli tafsir mencoba menjelaskan maksud lalai dalam surat tersebut. Ada kata yang menarik dari arti surat tersebut, yakni pernyataan lalai dari sholatnya, bukan lalai dalam sholatnya. Ini bermaksud bahwa sholat itu tidak berdiri sendiri. Ketika hanya berbicara konteks “dalam” sholat, maka hanya sholat itu sendiri. Tapi ketika berbicara konteks “dari” sholatnya, maka yang perlu diperhatikan adalah keseluruhan proses sholat itu sendiri. Proses itu meliputi persiapan sebelumnya, yakni wudhunya, pakaiannya, tempat sholatnya. Kemudian sholatnya itu sendiri, mulai dari gerakan-gerakannya yang benar, bacaannya yang benar, tumaninah, yang intinya sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Lalai juga berarti melambat-lambatkan waktu sholat. Sholat subuh menjelang dhuha, sholat dzuhur menjelang ashar, sholat ashar menjelang maghrib, sholat maghrib hampir bersamaan dengan isya. Jadi kategori lalai disini bisa diartikan asal-asalan dalam mendirikan sholat. Tidak menyempurnakan wudhunya, tidak benar gerakan sholatnya, tidak mengerti bacaan sholatnya, tidak khusyu dalam sholatnya, tidak menyegerakan atau tepat waktu mendirikan sholatnya, dan segala hal yang menyangkut sholat.

Astaghfirullahaladziim. Teguran yang sangat keras dari Allah SWT tentang sholat. Wajar jika kemudian seleksi awal ini tidak bisa kita anggap enteng. Wajar jika hadist yang disebutkan di atas menjadikan alasan ketika sholat seseorang itu baik, maka baik pulalah amal ibadah lainnya. Rusak sholat seseorang, maka rusak pulalah amal ibadah lainnya. Ibu saya sering berkata, indikator seseorang itu menghargai waktu atau tidak (misal telat menepati janji atau ngaret selalu) adalah lihat saja ketepatan sholatnya, jika ia menunaikan sholat tepat waktu atau di awal waktu, maka dia pasti menepati janji. Dan sebaliknya, jika sholatnya saja sering dilambat-lambatkan maka untuk urusan yang lain pun pasti akan terlambat pula.

Semoga kita terus memperbaiki Sholat kita. Ritual yang menjadi seleksi awal ibadah-ibadah kita lainnya. Allahu’alam bi shawab.