Rindu Madinah


Bismillah

Hampir setahun yang lalu dalam hitungan kalender hijriah. Tinggal menunggu satu bulan lagi untuk menggenapinya hingga pas setahun yang lalu. Ramadhan 1432 Hijriah Alhamdulillah begitu berkesan buat saya, Allah mengkaruniakan nikmat menjejakan kaki di tanah suci, Mekkah dan Madinah untuk yang pertama kali, bersama teman-teman lainnya.

– – – – – – – –

Namanya Pak Yusuf, tapi kami biasanya memanggilnya Pak Ucup. Orang Indonesia dari Cianjur. Sudah lebih dari sepuluh tahun bekerja di Madinah. Beliau bekerja menjadi juru masak di Restoran Indonesia, namanya Al-Qarat. Awal pertemuan kami dengannya adalah karena takdir Allah. Di tempat beliaulah kami menitipkan tas kami selama di Madinah, bertemu dengannya setiap sahur. Orangnya ramah, pengetahuannya bagus, pengagum Pak Habibie, dan sangat peduli dengan kondisi negeri. Satu momen di hari terakhir kami di Madinah, beliau mengantarkan kami mencari oleh-oleh, membeli kurma azwa – kurma nabi. Dicarikan tempatnya yang murah, dan dibantu untuk menawar, hingga mengantarkan kami menuju stasiun tempat bus untuk kembali ke Mekkah. Kami berniat memberikan sekedar ucapan terima kasih kepada beliau beberapa riyal. Tapi apa yang terjadi, beliau mendahului kami dan memberikan kami sejumlah uang, dan berkata ini untuk ongkos pulang. Subhanallah. Allahu Akbar. Kalimat terakhir yang beliau titipkan untuk kami, “Do’akan ya,sy lagi nabung buat beli tanah di Indonesia, do’ain kebeli ya.” Didoakeun Pak!

Namanya Waqash. Pria berkebangsaan Pakistan seinget saya. Namun memiliki darah Indonesia juga, Padang tepatya. Jadi tidak heran jika dia cukup fasih berbahasa Indonesia. Dia bekerja di sebuah toko perhiasan milik orang Turki. Awal pertemuan kami dengannya juga karena takdir Allah. Sepulang dari ziarah mengelilingi tempat bersejarah, Uhud, masjid Quba, Masjid dua kiblat, dll, kami berniat mencari listrik untuk merecharge handphone. Tapi saat itu kami masih belum mendapatkan tempat penitipan tas, sehingga tidak mungkin memasuki Nabawi. Kami teringat, di sepanjang toko menuju Nabawi di pilar pilarnya ada colokan-colokan listrik yang bisa dipakai. Tanpa berpikir panjang kami “ngampar” dipinggir jalan sembari menjaga handphone kami terecharge. Karena kelelahan kami tertidur. Melihat kami tertidur dipinggir jalan, rupanya orang didalam toko melihat hal itu, dan tak tega, memanggil kami untuk merecharge handphone di dalam tokonya. Dialah Waqash. Tak jauh beda dengan Pak Ucup, sangat baik. Kami biasa mengunjunginya selepas ashar menunggu waktu berbuka. Menjelang berbuka pasti dia mengajak kami untuk berbuka bersama bersama komunitasnya. Gratis. Selepas berbuka menunggu isya, segelas teh pasti disediakan olehnya untuk kami. Kami selalu ingat celotehannya, kamu – saya : Friend, sembari mengangkat satu jari tangan kanan dan kiri kemudian mendekatkannya.

– – – – –

Tentu bukan hanya Pak Ucup dan Waqash yang saya rindukan. Berdo’a di Raudhah, bersujud di Nabawi, berbuka bersama bareng saudara seiman di pelataran Nabawi, melihat makam Rasulullah SAW, melihat halaqah Qur’an yang diisi oleh hafidz-hafidz cilik, berdesakan berebutan shaf terdepan di Masjid Nabawi, berjalan menyusuri pelataran toko-toko perhiasan, mengnjungi Uhud, berdo’a untuk para syuhada, ah terlalu banyak yang saya rindukan.

Ah tulisan ini gara-gara si Gumi yang ngajak lagi Umrah di Ramadhan tahun ini🙂 . Siapa sih yang tak mau berkunjung ke Tanah Suci? Saya yakin bahwa setiap muslim di dunia ini pasti ingin beribadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Ya Allah semoga Engkau memberikan kesempatan kembali mengundang hamba untuk berkunjung ke tanah suci-Mu. Ya Allah semoga siapapun yang berniat umrah dan haji dengan sungguh-sungguh, Engkau undang untuk berkunjung ke tanah suci-Mu. Amin YRA.