Membangun Peradaban


Bismillah

Dua pekan yang lalu, kampus saya kedatangan tamu dari KAIST – Korea Advanced Institut of Science and Technology. Mereka “berbaik hati” membagikan ilmu dan pengalaman mereka di bidang kedirgantaraan, terutama di militernya. Ya ini bagian dari kerjasama strategis Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan dalam perancangan pesawat tempur KIFX. Selama 5 hari, 3 professor bergantian memberikan ceramah keilmuan yang dimilikinya. Mulai dari autonomous control, missile, aerodynamics, computational flight dynamics,  hingga pengalaman mereka dalam membangun pesawat latih supersonic mereka KT-50.  Yang saya kagumi dari berbagai penelitian mereka adalah tahapan-tahapan yang jelas dari gambaran besar apa yang akan mereka lakukan nantinya. Tiap penelitian dalam satu bidang dilakukan secara perlahan, terencana, dan tentunya terbiayai🙂 . Sudah jelas bahwa dukungan Pemerintah Korea Selatan pada pengembangan industri dalam negeri sangatlah besar. Bahkan untuk pesawat latih KT-50, mereka mengklaim 70% komponennya adalah produk Korea. Hanya untuk komponen sulit dan mahal saja seperti avionic yang mereka impor dari Lockheed Martin US. Tapi itu pun saat ini sedang mereka kembangkan. Dan hal ini juga disinergikan dengan universitas sebagai lembaga riset yang terberdayakan. Beberapa kali sang Profesor mengatakan bahwa riset-riset yang dilakukan di KAIST didukung oleh Korean ADD ( The Agency for Defence Development).

Kita tahu dan sering mendengar bahwa dendam positif mereka adalah : kalahkan Jepang. Tapi melihat saat ini saya yakin bahwa mereka pun berambisi mengalahkan Amerika. Dilihat dari teknologi telepon genggam nampaknya hal itu sudah terwujud. Sony sebagai representasi Jepang, sudah tak mampu lagi membendung Samsung. Bahkan untuk pasar di Jepang sendiri. Samsung kini sudah head to head  dengan iPhone, ponselnya Amriki. Korean wave? Ya, jelas bahwa Gelombang Korea sudah melanda dunia. Korean dance, korean boyband, korean girl, korean style, dan yang terakhir mungkin masih hangat: Gangnam Style🙂

Ambil yang baik, tinggalkan yang buruk

Tingkat kemajuan yang pesat bagi Korea, jelas ditopang oleh tingkat dan kualitas pendidikan Korea yang baik. Industri yang berkembang pesat didukung oleh orang-orang berkualitas dan pekerja keras. Kemajuan ini tentu membawa kemakmuran bagi warga negaranya, hingga tiap orang berlomba-lomba meraih kemakmuran itu.  Ya kita memang harus meniru etos kerja mereka, pekerja keras.

Hingga kemudian si Profesor bercerita, ya kemajuan ini baik bagi Korea. Tapi bagi kami lelaki Korea, sulit mencari pasangan hidup. Wanita korea saat ini lebih suka bekerja dan terus mencari uang. Banyak sekali wanita Korea yang sudah memiliki umur lebih dari 30an belum menikah, bahkan memilih untuk tidak berkeluarga. Toh penampilan katanya saat ini bisa “diakali” melalui operasi plastik. Menikah dan berkeluarga hanya menyita waktu pribadi. Maka wajar jika kita ini di kota-kota besar Korea, banyak wanita yang “diimpor” dari negara lain untuk diajak menikah. Sehingga kini Seoul sudah seperti kota multietnik. Si Profesor mengawali cerita ini ketika mengenalkan salah satu anggota peneliti di laboratoriumnya, seorang perempuan korea yang sudah bergelar Doktor, dan hingga kini belum menikah, sembari menawarkan kepada peserta apakah ada yang tertarik dengan doktor muda ini🙂

Sekilas memang tak ada yang salah dengan fenomena diatas. Tiap orang berlomba mengejar karier, meningkatkan kualitas hidup, berlomba mencapai kemakmuran. Tapi ternyata ada yang lupa, mencetak pelakunya. Mencetak manusianya. Meregenerasi manusianya. Dan itu hanya bisa terjadi dalam suatu ikatan pernikahan – membentuk keluarga. Fenomena ini hampir terjadi di tiap negara-negara barat. Kita saksikan bahwa anak-anak muda di barat enggan menikah – enggan berkeluarga. Kita perhatikan data di bawah ini, data kependudukan beberapa negara-negara barat dalam piramida penduduk.

UK population in 2006

 

US population 2010

Perhatikan bahwa piramida penduduk dua negara diatas sudah tidak berbentuk piramida lagi. Usia produktif memang semakin banyak. Komposisi balita – remaja – dewasa hampir sama, dan meluruh untuk usia tua semakin sedikit. Dan apa kombinasinya ketika usia muda dewasa ini kemudian berkeinginan untuk tidak menikah – tidak berkeluarga – dan tidak berketurunan? Mudah ditebak, piramida penduduk ini suatu saat akan terbalik dan lebih jauh lagi : kepunahan manusia. Ya dengan angka birth rates yang rendah, piramida ini lambat laun akan terbalik. Seorang penulis, contributor Forbes, Joel Kotkin mengatakan bahwa angka kelahiran yang rendah inilah salah satu faktor yang kemudian menyebabkan terjadinya krisis eropa. Dan jika memang fenomena yang diceritakan profesor Korea itu benar, maka Korea hanya tinggal menunggu waktu kehilangan generasi manusia emasnya. Dan itu pulalah yang diprediksi pada Jepang, yang sempat menjadi negara industri kedua terbesar setelah US.

Japan’s population pyramid

So, bagaimana dengan Indonesia? Apakah hendak mengekor mereka? Sebagai negara yang katanya diprediksi bakal menjadi negara berekonomi kuat, dan bahkan mampu melampaui Jerman di tahun 2030, mampukah negeri ini mengambil pelajaran? Menciptakan peradaban dan kemajuan memang penting, tapi tak kalah penting adalah mencetak manusia yang menjadi pelaku peradaban. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari fenomena-fenomena di atas.