Uangku Mana?


Bismillah. Beberapa hari yang lalu saat sholat subuh, di masjid saya – masjid Al-Kautsar, Sekelimus RW 08- , ada sosialisasi mengenai dinar dari penggiat dinar. Kalau tidak salah yang mensosialisasikan dari wakala. Saya pribadi senang dengan sosialisasi ini, memberikan pencerahan pada masyarakat. Lebih senang lagi karena sosialisasi ini dilakukan di masjid, tempat yang seharusnya menjadi pusat ilmu, pusat pendidikan, dan tempat dimulainya kebangkitan Islam. Mengenai dinar sendiri, saya sudah pernah mengulasnya di blog ini, silakan bisa di klik ke tautan ini : Mengelola Uang dan Dinar.

Menarik memang bahwa dunia yang kita jalani saat ini, sepertinya sudah tidak bisa dilepaskan dari riba. Dan instrumen ribawi yang beredar secara wajar, dan sayangnya kita tidak menyadarinya, adalah uang. Uang yang merupakan alat tukar dan (harusnya) memiliki nilai, kini tak lebih dari sekedar dari alat tukar saja. Karena sudah tak dijaminkan lagi oleh nilai asli yang sesusungguhnya (dulu untuk sekian nominal uang yang diterbitkan, ada sejumlah emas yang dijaminkan), nilai uang tergerus oleh yang namanya inflasi. Mudahnya nilai uang 10ribu hari ini tidak sama nilainya dengan nilai 10ribu tahun 90an. Katakanlah saat ini 10ribu rupiah hanya untuk makan seorang, di tahun 90an bisa digunakan untuk mentraktir makan berdua. Atau dengan mudah bisa kita amati dari nominal penerbitan uang. Nominal 100 rupiah, 200 rupiah sudah tidak “laku” lagi untuk ukuran receh. Kini yang disebut receh adalah minimal kepingan 500 rupiah. Nilai terkecil untuk uang lembaran memang masih ada untuk nominal 500 dan 1000 rupiah. Tapi adanya nominal lembaran 2000 rupiah, lembaran 500 dan 1000 rupiah sepertinya sudah tidak “laku” lagi. Nah maka wajar jika sekarang istilah untuk orang kaya bukan lagi “jutawan” tapi “miliarder”. Nilai jutawan tidak ada nilainya lagi, sudah menjadi orang kebanyakan. Mungkin beberapa tahun lagi, miliarder pun sudah jadi orang kebanyakan, mungkin triliuner, bilioner, dll.

Parahnya lagi, uang dalam bentuk kertas yang tidak dijaminkan nilainya saja sudah memacu inflasi begitu besarnya, kini perpindahan uang sudah terjadi hanya dalam layar komputer saja. Dalam layar biner 0 1 0 1 saja. Perpindahan uang dari satu orang ke orang lain sudah tidak “berasa” lagi. Kita tidak lagi memegang uangnya, kita hanya melihatnya saja dari layar komputer. Apakah uang fisiknya ada?? Kita tidak tahu🙂 . Maka wajar jika korupsi kini semakin mudah. Ya tinggal otak-atik saja angka di komputer. Beres. Coba kalau tidak ada yang demikian, kan orang untuk korupsi masih susah hehe.. Korupsi 10 milyar misalnya, berarti harus ada fisiknya bawa uang kertas senilai 100 milyar. Minimal jadi susah buat ngamaninnya, harus ada bungker sendiri. Nah lebih susah lagi jika misalnya uang itu kembali ke emas/dinar. Korupsi senilai 100 milyar, berarti mungkin jadi emas berapa kilogram, kan ngamaninnya berat, gak bisa korupsi sendiri. Butuh orang lain buat ngangkutnya hehe… | ini bukan ngajarin korupsi ya🙂 uang-dalam-karung-3

Ya hal-hal sederhana akibat ribawi terjadi di depan kita. Pilihannya ada di hadapan kita, tetap menggunakan instrumen ribawi atau melepaskannya. Kita memang belum bisa terlepas dari uang, toh semua hal transaksi menggunakan uang. Mudahnya sebenarnya bisa kita jalankan dari hal sederhana. katakanlah ketika mau investasi, ya investasilah di sektor riil, sektor yang jelas fisiknya, bukan investasi di valas, surat hutang, dll. Investasinya dalam bentuk barang, bisa logam mulia, tanah, rumah, atau perdagangan sektor riil. Dengan berinvestasi di sektor riil, kita akan mentrigger pekerjaan untuk orang lain. Kalau kata Pak Habibie, kita akan menyediakan jam kerja – peningkatan produktifitas dalam negeri. Saya bukan ahli ekonomi. Hanya saja saya melihat sebenernya fenomena keburukan dari instrumen ribawi itu sudah begitu parahnya menggerogoti kehidupan kita.

“Sungguh akan datang pada manusia suatu masa (ketika) tiada seorangpun di antara mereka yang tidak akan memakan (harta) riba. Siapa saja yang (berusaha) tidak memakannya, maka ia tetap akan terkena debu (riba)nya,” (HR Ibnu Majah, hadits No.2278 dan Sunan Abu Dawud, hadits No.3331; dari Abu Hurairah)

“Riba itu mempunyai 73 macam. Sedangkan (dosa) yang paling ringan (dari macam-macam riba tersebut) adalah seperti seseorang yang menikahi (menzinai) ibu kandungnya sendiri,” (HR Ibnu Majah, hadits No.2275; dan Al Hakim, Jilid II halaman 37; dari Ibnu Mas’ud, dengan sanad yang shahih)

Astaghfirullahaladziim. Allahu’alam bi shawab.