Menjaga Integritas


Kondisi saat ini, membuat kita semakin mudah reaktif untuk mengomentari, mencibir, bahkan hingga menghujat sesuatu. Semakin kita sering berbuat demikian, maka semakin mungkin integritas kita dipertanyakan suatu saat.

Nah mungkin fenomena ini bisa diaplikasikan pada pencalonan Bapak Joko Widodo, yang belum lama dicalonkan Ibu Megawati untuk jadi calon presiden. Komentar miring, komentar sinis, dan komentar lain yang berlebihan terus bermunculan. Satu persoalan katanya, Bapak Jokowi tidak amanah menyelesaikan 5 tahun masa jabatannya di Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Apakah salah? Sayangnya tidak. Undang-Undang yang ada, UU 12 Tahun 2008 menyatakan tidak ada kewajiban/keharusan Kepala Daerah menyelesaikan masa jabatannya. Mereka boleh mundur, berhenti, yang otomatis diganti posisinya oleh wakil kepala daerah. Sah-sah saja.

Lantas bagaimana jika Bapak Ahmad Heryawan, gubernur saya, maju menjadi calon presiden juga? Ya, sah-sah saja. Tapi apakah kemudian komentar yang muncul sama juga ketika kita mengomentari Bapak Joko Widodo? Dan bagaimana juga jika kemudian Bapak Ahwad Heryawan dipasangkan dengan Bapak Joko Widodo? nah lho…

Politik adalah kebijakan. Penuh kompromi. Penuh siasat. Dan harusnya politik menyenangkan, bukan saling menebar kebencian satu sama lain. Akan jadi hal yang santun, jika kampanye diisi dengan menggaungkan gagasan-gagasan kebaikan, bukan sindiran penuh kebencian. Toh katanya tidak ada kawan maupun lawan sejati, yang ada hanyalah kepentingan.

Karena bisa jadi karena kebencian kita atau kedengkian kita yang tidak seharusnya, yang menjadikan Allah belum berkenan untuk memenangkan apa yang kita perjuangkan.

Selamat menjaga integritas. Selamat berpesta demokrasi.

#fanskangaher #bukanfansmasjoko